Tuesday, August 25, 2015

ETIKA, MORAL DAN KEBAHAGIAAN



ETIKA, MORAL DAN KEBAHAGIAAN


ETIKA

Pada awalnya aku berpikiran bahwa etika adalah pedoman langkah dalam hidup manusia tersebut. Apakah ada landasan untuk suatu etika? Menurutku landasan suatu etika adalah pandangan moral individu tsb. Dan tujuan dibentuknya suatu etika adalah terciptanya suatu kehidupan yang harmonis.

Dan untuk memberikan penjelasan tentang argumenku di atas, aku akan membawakan dua jenis etika dalam filsafat, yang menurutku adalah yang paling baik. Dan itu adalah etika eudaimonia Aristoteles dan etika kewajiban Kant.

Menurutku pendapatku, membahas etika kewajiban Kant sama menariknya dengan membahas etika eudaimonia Aristoteles. Meskipun menurutku, kedua etika ini masing-masing memiliki sedikit kekurangan.

Untuk menjelaskan pendapatku ini, maka aku akan menuliskan sedikit pandangan Aristoteles dan Kant tentang etika ini;




KANT - ETIKA KEWAJIBAN

Kant memulai suatu pemikiran baru dalam bidang etika. Kant menyatakan bahwa seseorang harus bertindak berdasarkan KEWAJIBANNYA (deon) bila ingin berbuat sesuatu yang BENAR SECARA MORAL.
Menurut Kant, tindakan yang terkesan baik bisa bergeser secara moral apabila dilakukan bukan berdasarkan rasa kewajiban, melainkan demi pamrih yang dihasilkan.

Argumen Kant dibuka dengan pernyataan bahwa kebaikan tertinggi (summum bonum) haruslah baik per se dan baik tanpa kualifikasi. Sesuatu dianggap BAIK PER SE bila hal tersebut secara intrisik baik, dan BAIK TANPA KUALIFIKASI adalah ketika penambahan hal tersebut tidak membuat keadaan menjadi lebih buruk secara etis.

Kant lalu menyatakan bahwa hal-hal yang biasanya dianggap baik, seperti kecerdasan, ketekunan, dan kesenangan, belum bisa dikategorikan sebagai baik per se atau baik tanpa kualifikasi.

Misalnya, kesenangan terkadang bukan merupakan baik tanpa kualifikasi, karena jika seseorang senang melihat orang lain menderita; keadaan tersebut buruk secara etis.


Kemudian, Kant juga menekankan bahwa suatu tindakan dianggap benar atau salah bukan berdasarkan dampaknya, tetapi berdasarkan niat utama dalam melakukan tindakan tersebut. Ia menyimpulkan bahwa hanya ada satu hal yang sungguh baik, yaitu niat baik. Mungkin maksud kata-kata Kant ini setara dengan; tidak ada satu pun yang lebih tinggi daripada perbuatan yang dilakukan karena NIAT BAIK.

Kant lalu berargumen bahwa dampak dari suatu niatan tidak dapat dijadikan patokan untuk mengetahui niat baik seseorang; dampak positif dapat muncul secara kebetulan dari tindakan yang dimaksudkan untuk melukai seseorang, dan dampak negatif dapat muncul dari tindakan yang berniat baik. Dan menurut Kant, niat baik inilah yang akan menentukan apakah tindakan itu secara moral benar, bukan akibat dari tindakan itu.

Kant malah mengklaim bahwa seseorang bisa dikatakan berniat baik bila ia bertindak berdasarkan penghormatan pada hukum moral. Orang-orang bertindak berdasarkan penghormatan pada hukum moral karena mereka memiliki kewajiban untuk melakukan hal tersebut. Maka, satu-satunya hal yang sungguh baik adalah niat baik, dan niat baik hanya baik bila orang yang memiliki niat tersebut melakukan sesuatu karena hal tersebut merupakan kewajiban orang itu, yaitu KEWAJIBAN DALAM MENGHORMATI HUKUM.

"Tapi jika kamu berbuat baik dengan orang lain hanya agar populer, berarti kamu bertindak bukan karena menghormati hukum moral. Kamu mungkin bertindak sesuai dengan hukum moral--dan itu sudah cukup baik--tapi jika itu kamu maksudkan untuk menjadi tindakan moral, kamu harus mengalahkan dirimu sendiri.
Hanya jika kamu melakukan sesuatu murni karena kewajiban sajalah maka tindakanmu dapat dikatakan menjadi tindakan moral." Karena itu etika Kant kadang-kadang disebut etika kewajiban.


Sedikit kekurangan pada etika kewajiban Kant, yang pertama yang akan aku pertanyakan adalah;
* Berdasarkan pada apa hukum moral menurut Kant ini ditentukan? Apakah moral pribadi atau golongan tertentu atau moral universal? Jika moral universal berarti hukum ini lebih terfokus pada aturan-aturan kaku, dan kepentingan individu harus diabaikan untuk tujuan universal. Karena tujuan universal tidak selalu sama dengan tujuan individu.

* Berdasarkan apakah kewajiban ini ditentukan? Apakah kewajiban Kant ini bersifat individual, politik, sosial, spiritual, norma, budaya, dsb? Karena kata kewajiban di sini adalah hal yang membingungkan.

* Apakah benar menurut Kant apabila dalam pemenuhan KEWAJIBAN itu, individu harus mengorbankan kepentingan orang lain? Misalnya;
+ Manusia wajib makan, dan orang tsb memperoleh makanan dengan merampas makanan orang lain - apakah ini bisa disebut baik?
+ Untuk memberi makan anaknya, orang harus mencuri - apakah ini bisa kita sebut baik?
+ Untuk mendapatkan uang untuk biaya hidup anaknya, seseorang menjadi pembunuh bayaran - apakah tindakan ini bisa dikatakan baik?
+ Untuk mempertahankan hidup, orang wajib mempunyai penghasilan, dan untuk kewajibannya tersebut, manusia misal merusak alam - apakah ini bisa dikatakan baik?
+ Aku masih bisa membuat banyak pertanyaan lain, tapi menurutku ini cuma bisa diselesaikan dengan memberikan penjelasan berdasarkan apakah kewajiban yang baik menurut Kant ini? Ini adalah salah satu dampak penggunaan kata kewajiban yang membingungkan.

* Apakah bermoral baik harus mengabaikan kepentingan dirinya sendiri demi kepentingan orang lain? Pertanyaan ini timbul atas dampak pernyataan Kant yang berpendapat bahwa semakin sedikit pamrih kita untuk menunaikan kewajiban, semakin tinggilah nilai moral tindakan kita.



Jadi di sini aku mengambil kesimpulan bahwa;
* Kant terlalu membandingkan keadaan moral dan perenungan filosofis keagamaannya untuk merumuskan dasar etikanya.

* Perenungan akan kewajiban Kant terlalu besar cakupannya, bila disalahartikan, dapat menyebabkan penyalahgunaan untuk suatu kepentingan sosial misalnya; golongan.

* Kant membuat suatu pergeseran pengertian dari kewajiban setara dengan menyatakan bahwa kewajiban manusia adalah menghormati hukum moral.

* Kant terlalu mengedepankan ketaatan kepada hukum daripada faktor-faktor perasaan individu, sehingga sudah pasti menurutnya, kepentingan golongan yang terutama, bukan kebahagiaan individu.

* Kant terlalu menekankan akan pentingnya pembentukan moral pribadi yang baik, menurut pandanganku, ini sebenarnya sedang memberikan rantai pada diri sendiri, bukan berarti aku mengatakan ini tidak baik. Tapi aku memberi penekanan, salah memberi rantai akan berakibat fatal.


Sebenarnya menurutku, pandangan Kant akan etika sangat luas maknanya. Cuma mungkin penjelasan Kant agak sedikit bertele-tele. Karena Kant dalam pandangannya, menggunakan banyak sekali kata-kata, spt;
- kebaikan
- hukum moral
- kewajiban
- kehendak (niat)
- perintah
- hormat (patuh)

Jadi dalam hal ini, Kant sedang mencampuradukkan semua tentang KEBAIKAN YANG DAPAT DILAKUKAN MANUSIA. Sehingga aku berpendapat bahwa KEBAIKAN menurut Kant ini adalah salah satu bentuk KEBAIKAN TERTINGGI.

Salah satu komentarku yang paling utama dalam hukum moral Kant ini adalah, bahwa Kant sangat mengedepankan hukum moral universal. Memang Kant sebelumnya menjelaskan bahwa hukum moral universal itu berdasar dari kumpulan hukum moral individu. Tetapi lama kelamaan tentu saja nilai moral individu tsb hilang berganti dengan moral universal. Dan manusia wajib menanamkan moral universal ini dan wajib menaatinya dengan penuh. Menurutku, dalam hal ini, salah satu kesalahan Kant adalah, Kant mengkritik dogmatisme untuk menciptakan dogmatisme yang baru.


Dalam pandangannya dalam moral individu, Kant menyatakan;

“ Bertindaklah semata-mata menurut prinsip (maksim) yang dapat sekaligus kau kehendaki menjadi hukum umum (universal) ” 

maksim = prinsip subjektif = pandangan moral pribadi (individu)

Maksudnya mungkin lebih mirip, kita bertindak sesuai dengan kewajiban  yang sesuai dengan kehendak kita, namun hal itu tidak hanya berlaku bagi kita, melainkan berlaku bagi semua orang, semua mahluk rasional yang ada di dunia. Mungkin ini juga setara dengan; jangan melakukan kepada orang lain, jika kamu tidak ingin itu dilakukan kepadamu.

Kant berpendapat bahwa, maksim yang kita miliki harus disepakati oleh semua orang terlebih dahulu, barulah kita dapat menggunakannya untuk diri kita. Karena pada saat yang sama, maksim tersebut akan menjadi suatu hukum, dan syarat bagi sebuah maksim ialah harus bisa dilakukan oleh semua orang.

Berdasarkan pandangan ini, berarti maksim itu dibentuk atas dasar rasional individualis. Karena sangat tidak mungkin kita menunggu semua orang untuk sepakat dengan pandangan moral pribadi kita, atau bertanya-tanya pada semua orang apakah moral pribadi kita sudah tepat.


Menurut Kant, ada tiga kemungkinan orang melakukan kewajiban, yakni;
- karena menguntungkan
- dorongan dari hati (belas kasihan)
- karena kewajiban

Melakukan kewajiban karena menguntungkan ataupun karena belas kasihan itu disebut dengan legalitas. Secara lahiriah dua keadaan tersebut memang ada kesesuaian antara kehendak dan kewajiban, tapi secara batin segi kewajiban tidak memiliki peranan.

Menurut Kant hanya kehendak yang terakhir inilah yang betul-betul bermoral (moralitas). Melakukan kewajiban karena mau memenuhi kewajiban itulah yang disebut kehendak baik (good will).

Salah satu penyebab kesusahan yang terjadi di sini adalah penggunaan kata kewajiban menurut Kant ini tidak sama dengan kewajiban dalam bahasa Indonesia. Dan di sini Kant terlalu menekan kewajiban dan menyamakannya dengan kebaikan. Sehingga kebaikan menurut Kant tidak berurusan dengan perasaan subjek tersebut. Karena mungkin memang Kant sendiri ingin membedakan antara kebahagiaan dengan moralitas

Sebenarnya menurutku, pandangan Kant sangatlah jauh untuk hal tersebut. Tapi Kant terlalu lupa untuk memikirkan keadaan dari subjek dengan realitas. Karena pada dasarnya, kebaikan ataupun moralitas tidak memberikan jaminan apa-apa di dunia realitas. Dan ini akan membuat penderitaan yang dialami manusia menjadi semakin berlipat-lipat. Karena menurut pandanganku, membuat suatu pandangan moral, kebanyakan adalah untuk menolak JATI DIRI MANUSIA TERUTAMA YANG BERHUBUNGAN DENGAN NALURINYA.

Jadi aku tidak ingin menambahi pengertian Kant tentang hukum moral. Malahan aku ingin menguranginya sampai kepada pernyataan; "bertindaklah semata-mata menurut maksim-mu."

Memang konsep ini mempunyai banyak kekurangan. Kekurangannya adalah karena aku tidak mengambil kelebihan dari konsep Kant. Karena pandangan moral individu adalah sesuatu yang bisa saja baik ataupun buruk.

Tapi aku tidak menyatakan ini benar. Dan aku juga tidak menyatakan konsep Kant adalah benar. Karena menurutku kebenaran di sini terletak di antara keduanya.

Maksudku di sini, kebenarannya terletak dalam ide jiwa manusia. Atau dengan lebih spesifik lagi, kebenarannya terdapat dalam otak manusia. Atau lebih sederhana lagi, kebenarannya adalah menurut pribadi masing-masing manusia menurut akal dan perasaan murni pribadi manusia. Karena kebenaran dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh keadaan (kondisi).



Dan sedikit tambahan penilaianku terhadap argumen Kant;
* Menurutku Kant sangat kesulitan merumuskan dasar etikanya, karena etika Kant adalah salah satu etika idealis tertinggi. Masalahnya dalam perumusan konsep kewajibannya, Kant malah menekankan penggunaan rasio, tanpa mempertimbangkan perasaan

* Tapi bisa jadi aku juga sependapat dengan Kant, bahwa tidak ada kebahagiaan sejati dalam dunia ini. Mungkin saja kebahagiaan sejati cuma bisa didapat setelah kematian.

* Point terpenting dari pemikiran Kant adalah pembentukan moral pribadi.

* Menurutku dalam pandangannya akan KEBAIKAN, KANT kehilangan  sentuhan satu kata; PERASAAN. Atau dalam bahasaku, melakukan moral pribadi yang membuat manusia tersebut bahagia. Suatu argumen yang tidak masuk akal, kan?

* Secara keseluruhan, aku suka orang-orang seperti Kant ini.







ARISTOTELES - ETIKA EUDAIMONIA

Pembahasan ini aku buka dengan argumen; Dalam melakukan segala perbuatannya, manusia mengejar suatu tujuan. Dan semua tujuan itu mempunyai suatu tujuan akhir. Di sini Aristoteles menyatakan KEBAHAGIAAN adalah FINALITAS TUJUAN hidup seseorang. Jadi semua kegiatan manusia, pada akhirnya ditujukan untuk mencapai kebahagiaan manusia tsb.

Eudaimonia (kebahagiaan) bukan lagi menjadi sarana untuk suatu tujuan, melainkan tujuan itu sendiri. Kata eudaimonia tidak memaksudkan suatu PERASAAN subjektif, tetapi suatu KEADAAN manusia yang berupa KESEJAHTERAAN. Dan tujuan hidup seseorang itu bukan untuk mengetahui apa itu kebahagiaan, tapi untuk merasai kebahagiaan itu.

Di sini Aristoteles menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dipenuhi manusia agar bisa berbahagia;
* memiliki harta secukupnya agar hidupnya terpelihara
* persahabatan (menurut Aristoteles, persahabatan lebih penting daripada keadilan)(sahabat seperti satu jiwa dalam dua tubuh)(mungkin lebih mirip dengan cinta)
* keadilan



Menurut Aristoteles, supaya manusia bahagia, manusia harus menjalankan aktifitasnya menurut keutamaan. Menurutnya hanya pemikiran yang disertai keutamaan yang dapat membuat manusia bahagia.

* Keutamaan intelektual berkembang terutama karena pengajaran.
Karena alasan itu, keutamaan memerlukan pengalaman dan waktu.

* Keutamaan moral sebaliknya dibentuk oleh kebiasaan, etos, dan istilah etik.
Keutamaan moral terkait dengan KONSEP JALAN TENGAH.

Manusia bisa dikatakan bahagia jika dia menjalankan keutamaannya dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain, kebahagiaan itu adalah ketika manusia sudah sampai pada keadaan yang bersifat stabil (tetap).

Hidup menurut keutamaan (objektif) dapat membentuk keutamaan pribadi, sehingga selanjutnya perbuatan-perbuatan dilakukan menurut dasar keutamaan pribadinya. Keutamaan dapat mengatur rasio (akal) dan membentuk watak manusia tsb. Mungkin dasar keutamaan pribadi ini mirip dengan dasar moral pribadi


Agar manusia benar-benar mendapatkan kebahagiaan yang utuh maka perlu merasakan senang dalam menjalankan kebahagiaan. Jadi, mesti ada kesenangan atau rasa bahagia yang subjektif, tapi bukan hedonis.
Perlu digarisbawahi bahwa kebahagiaan tidak dapat disamakan dengan kesenangan.

Selain dari kesenangan yang sifatnya batiniah, maka dalam penyempurnaan kebahagian diperlukan juga kesenangan yang sifatnya lahiriah, seperti misalnya kesehatan, kebebasan, kesejahteraan ekonomi, sahabat-sahabat, keluarga, penghormatan, lingkungan yang baik, dan lain sebagainya.

Dan Aristoteles juga menekan upaya pengembangan diri dan pembiasaan untuk mencapai kebahagiaan. Upaya pengembangan diri berupa proses aktualisasi diri, berupa aspek intelektual dan aspek sosial.
Dan pembiasaan adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan keutamaan bagi manusia, secara intelektual maupun moral. Karena untuk membentuk manusia yang berkualitas, membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Dan pembahasan etika eudaimonia Aristoteles yang terakhir adalah kehidupan ideal. Aristoteles kembali menyatakan bahwa tujuan terpenting dalam kebahagiaan manusia adalah memandang kebenaran. Tetapi dalam mencapai kebenaran ini, Aristoteles menolak unsur-unsur idealis.

Memang etika kebahagiaan Aristoteles adalah etika yang indah. Dan penjelasanku di sini sebenanrnya masih belum seberapa. Tapi jika anda ingin tahu lebih banyak, silakan baca sendiri bukunya dan silakan anda tafsirkan sendiri.


Tapi ada beberapa hal yang ingin aku kritik dari etika Aristoteles ini. Sebaiknya kita mulai menanamkan pemikiran bahwa kata KRITIK bukan selalu berarti negatif. Menurutku kritik cuma istilah lain untuk memberikan tanggapan.

Aristoteles terlalu memandang kebahagiaan manusia itu secara kompleks dan rasional. Sangat cocok dengan mode pemikiran Aristoteles yang rasionalis.Menurutku, sanking rasionalnya, malah menjadi tidak rasional.

Aku ingin bertanya pada Aristoteles, siapa yang lebih pantas menentukan orang itu bahagia atau tidak? TIDAK ADA YANG LEBIH BERHAK MENENTUKAN MANUSIA ITU BAHAGIA, KECUALI MANUSIA ITU SENDIRI. Maksudku lebih kepada; biarkanlah orang tersebut yang menentukan apa yang disebutnya kebahagiaan. Biar dia menentukan apa yang membuatnya bahagia sehingga dia merasa bahagia.

Syarat-syarat yang ditawarkan Aristoteles di atas menurutku, hanyalah berupa hal-hal yang harus dimiliki manusia agar terhindar dari rasa sakit (perasaan buruk manusia). Tapi sebenarnya perasaan buruk inilah yang harusnya dipelajari manusia lebih jauh.

Sehingga sangat pantas menurutku untuk mengganti istilah eudaimonia = kebahagiaan di atas menjadi eudaimonia = kesejahteraan.

Kebahagiaan Aristoteles merupakan suatu kebahagiaan sempurna versi rasionalis. Dan kebahagiaan seperti ini merupakan hal yang diidam-idamkan setiap manusia yang hidup. Dan menurutku jika kebahagiaan adalah hal yang seperti ini, tidak semua manusia dapat merasakannya.

Maksudku kebahagiaan versi ini sangat mungkin dicapai oleh orang-orang yang terfokus menjalani kehidupan yang baik. Dan mungkin hanya bisa tercapai jika keadaannya baik. Maksudku di sini, kebahagiaan versi ini hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang hidup ataupun terlahir dalam KEADAAN YANG BAIK DAN TIDAK MENGETAHUI TENTANG KEADAAN YANG BURUK. Meskipun menurutku syarat-syarat yang dipaparkan Aristoteles memang benar adanya, karena memang itu rasionalis.

Sedikit masalah yang aku perhatikan di sini adalah, kondisi awal kehidupan orang tersebut, kondisi (alam) lingkungannya, dan kemampuan individu tsb merupakan musuh terbesar dari pandangan ini. Jadi aku lebih menekankan kebahagiaan karena kepuasan batin.

Dan aku juga bisa membalikkan pemikiran, bahwa semua manusia juga bisa bahagia seperti ini, jika pandangan moral adalah ditiadakan. Menurutku Aristoteles sedikit lupa bahwa dunia ini tidak hanya dihuni oleh jiwa rasionalis, tapi juga jiwa idealis.

Karena pandangan Aristoteles ini hanya sangat cocok untuk orang-orang yang menjalani kehidupan yang bahagia. Pertanyaan sederhanaku;
* Bagaimana dengan orang-orang yang telah banyak menerima rasa sakit?
* Bagaimana dengan orang-orang yang tujuan hidupnya tidak terletak di dunia realitas?
* Bukankah selalu ada kondisi awal untuk menentukan kondisi saat ini?
* Bagaimana dengan orang yang kondisinya tidak memungkinkan untuk mendapatkan hal tersebut?


Jadi aku membuat pengertian bahagia menjadi lebih sederhana yaitu dengan mendapatkan ketenangan hati. Apa yang membuat hati manusia tenang, itulah yang membahagiakannya. Melakukan sesuatu karena hal itu membuatnya tenang, itulah salah satu faktor utama kebahagiaan seseorang. Dengan kata lain adalah kebahagiaan adalah keadaan batin yang sempurna.

Dan juga aku sangat sependapat bahwa aktualisasi potensi diri merupakan syarat penting untuk menciptakan kebahagiaan seseorang.


Menurutku sangat menarik untuk membahas kedua etika ini sampai tuntas. Tapi menurutku, ada beberapa kekurangan-kekurangan yang memang muncul tanpa disengaja dalam pembahasan ini, yaitu karena perbedaan konsep etika, moral dan kebahagiaan. Tanpa adanya pengertian pasti, kedua etika ini memang tidak bisa didamaikan.

Seperti misalnya pertanyaan-pertanyaan berikut;
- apakah tujuan pembuatan etika adalah untuk kebahagiaan
- apakah tujuan pembuatan etika adalah untuk moral
- apakah tujuan pembuatan moral adalah untuk etika
- apakah tujuan pembuatan moral adalah untuk kebahagiaan

Dari sini aku menyimpulkan bahwa moral adalah bahan dasar, etika adalah cara pembuatannya dan kebahagiaan sebagai posisi hasil. Dan ini menghasilkan konsep awalku bahwa etika adalah cara hidup bagi manusia tersebut. Dengan berlandaskan pada pandangan moral manusia tersebut. Dan aku juga menyatakan bahwa tujuan pembentukan etika adalah untuk mencapai keharmonisan. Jadi kalau menurut individu tsb harmonis berarti bahagia, berarti bisa jadi begitu. Kalau menurutnya harmonis berarti berdamai, bisa jadi begitu.

Jadi mencapai kesimpulan bahwa etika adalah pandangan moral yang menciptakan keharmonisan. Dan aku menciptakan pandangan ini untuk tujuan dan dengan cara individualistik. Maksudnya etika ini adalah etika perseorangan, tanpa membatasi pandangan umum ataupun dogma; yaitu dengan dasar bahwa tidak ingin hal tersebut dilakukan pada kita sendiri.

Tapi aku lagi-lagi berpikiran, apakah pandangan moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan keharmonisan. Keharmonisan yang bagaimana yang ingin dicapai tersebut? Muncul lagi suatu penyebab kesulitan dalam penentuan ini, karena keharmonisan adalah menurut sudut pandang (subjektif).

Keharmonisan adalah menurut pengertian individu tsb;
- keharmonisan bisa berarti untuk diri sendiri
- keharmonisan bisa berarti untuk lingkungan
- keharmonisan bisa berarti untuk dunia
- keharmonisan bisa berarti untuk bahagia
- keharmonisan bisa berarti harta
- keharmonisan bisa berarti cinta
- keharmonisan bisa berarti damai

Dan dengan memunculkan kata keharmonisan, akan selalu memunculkan konsep-konsep seperti di atas, yang sebenarnya makin mengaburkan pengertian moral tsb.

Aku meragukan semua kaitan antara moral, etika dan kebahagiaan, sehingga menghasilkan;
* Moral berkaitan dengan etika; melakukan sesuatu untuk moral dilakukan dapat dengan etika
* Kebahagiaan berkaitan dengan etika; melakukan sesuatu untuk kebahagiaan dapat dilakukan dengan etika

Dan aku menyimpulkan;
* Etika adalah cara manusia
* Moral adalah tujuan
* Kebahagiaan adalah tujuan

Karena etika adalah cara hidup, dengan begitu etika bisa berhubungan dengan moral dan etika bisa berhubungan dengan kebahagiaan. Tapi kedua etika tsb bukan sesuatu yang sama.

* Etika kesejahteraan adalah termasuk etika, tetapi tidak termasuk ke dalam moral.
* Etika moral adalah termasuk etika, tetapi tidak termasuk ke dalam kesejahteraan.

Karena kedua etika ini adalah memang etika yang berbeda. Karena pada dasarnya, moral tidak ada sangkut pautnya dengan kebahagiaan, apalagi kesejahteraan. Maka etika Aristoteles bukan sesuatu yang berhubungan dengan etika moral, dan sebenarnya tidak harus berhubungan.

Karena moral bukanlah suatu dasar untuk semua etika, melainkan tujuan dari suatu etika. Moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan moral tersebut, bukan kebahagiaan. TERKECUALI dengan melakukan pandangan moralnya membuat manusia tsb bahagia. Meskipun ini hanya mungkin terjadi untuk orang-orang yang berjiwa idealis.

Dan untuk jiwa rasionalis, selalu ada tujuan dibalik semua tindakan. Maksudku, orang-orang yang menjaga pandangan moralnya untuk mencapai kebahagiaan akan menjadi perbuatan yang sia-sia, jika tanpa adanya janji akan kehidupan setelah kematian. Maksudnya, jika surga dan neraka adalah tidak ada, pandangan seperti ini mungkin adalah sia-sia. Dan untuk hal-hal seperti ini agama selalu menawarkan konsep kebahagiaan abadi.

Dan menurutku, yang seperti ini bukan berarti tidak mungkin ada. Aku malah lebih bingung bagaimana manusia jaman dulu memiliki konsep seperti ini.

Dan menurutku konsep Kant sangat ingin membawakan konsep kebahagiaan KEDISANAAN secara tersembunyi. Dan Aristoteles membawakan konsep kebahagiaan KEDISINIAN secara terbuka. Masalah manusia adalah INGIN BAHAGIA DALAM KEDUA-DUANYA SESUAI IMAJINASINYA.



Kesimpulan dari dua etika yang berbeda tsb adalah;
- etika moral adalah dengan dasar pandangan pribadi dan untuk tujuan moral
- etika kesejahteraan dengan dasar potensi diri dan untuk tujuan sejahtera

Dan menurutku, ada tujuan yang lebih tinggi daripada tujuan dari kedua etika tersebut di atas, yaitu kepuasan batin. Karena menurutku, selalu ada perasaan di balik semua tindakan manusia.

* Tujuan pembentukan moral bukan untuk keharmonisan, tetapi kepada kepuasan batin individu tsb.
* Tujuan kesejahteraan bukan untuk keharmonisan, tetapi kepada kepuasan batin individu tsb.
 


Sedikit kesulitan dalam perumusan di atas adalah karena moral dipakai untuk menggambarkan dua hal;
* moral sebagai PRINSIP (dasar) (pandangan pribadi)
* moral sebagai HASIL (tujuan)





PERPANJANGAN KONSEP KEBAHAGIAAN KARENA KEPUASAN BATIN

PERTAMA; KEBAHAGIAAN KARENA KETENANGAN HATI

Berdasarkan pandangan awalku bahwa kebahagiaan adalah karena ketenangan hati. Maka cara termudah mencapai kebahagiaan adalah dengan cara mengatur hal-hal yang menenangkan hatinya. Aku sangat membedakan ketenangan dengan kesenangan.

Dan juga menurutku kebahagiaan tertinggi manusia itu cuma angan-angan manusia saja. Mengatur angan-angan itulah yang menciptakan kebahagiaan manusia. Maka itu aku menyatakan ketenangan hati, contohnya orang yang hatinya tidak tenang tidak akan bisa merasa bahagia. Setelah hatinya tenang, barulah dia memikirkan lagi kata bahagia itu.

Jadi tujuan manusia hidup untuk mencari ketenangan hatinya. Masalah yang terletak di sini adalah berbagai macam hal yang bisa menyebabkan ketenangan hati seseorang, misal harta, pangkat (kekuasaan), pengetahuan, kesuksesan, cinta, penghormatan.

Jadi ini garis penghubung antara kebahagiaan menurut Aristoteles dengan sesuatu yang menurutku kurang lengkap itu. Ketenangan hati. Jadi cara mendapatkan kebahagiaan itu adalah dengan melakukan hal-hal yang membuat hatinya tenang.

Dan karena ketenangan hati bisa DIATUR,  maka sebenarnya kebahagian manusia itu ditentukan oleh dirinya sendiri. Dengan mengatur hal-hal yang membuat hatinya tenang, maka manusia itu sedang mengatur kemudahan untuk mencapai kebahagiaannya.

Aku pikir hal ini sudah dipikirkan manusia sejak masa kecilnya, berupa khayalan-khayalan masa kecilnya. Berarti kesalahan pandangan akan kebahagiaan pada masa kecil seseorang, berpengaruh besar dengan jalan hidup dan kebahagiaannya.
 Apakah orang yang tidak punya perasaan itu lebih cenderung gampang bahagia? Tidak ada kondisi pasti untuk hal ini, karena kedua-duanya adalah mungkin. Orang yang mengandalkan perasaan adalah orang yang paling mudah bahagia sekaligus paling sulit bahagia. Ini adalah tergantung manusia tersebut mengontrolnya.

Jadi bagaimana manusia mendapatkan ketenangan hatinya? Apakah dengan berbuat kebaikan? Apakah dengan melihat kebaikan? Tentu saja bukan, ketenangan hati manusia dapat diciptakan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melakukan sesuai hukum moral pribadinya.

Maksudku di sini, orang-orang yang menetapkan hukum moral yang keras dalam dirinya, adalah orang-orang yang sulit untuk mencapai kebahagiaan. Karena pada dasarnya orang tersebut sedang melawan kodratnya. Tapi ini bukan berarti bodoh, bodoh selalu berdasarkan subjek. Tetapi sudah jelas manusia tersebut keras kepala.

Maksudku begini, dengan mengatur pandangan-pandangan pribadinya akan segala sesuatu dan gambaran akan keinginan yang menciptakan ketenangan hatinya, manusia itu sudah maju satu langkah dalam menentukan jalan kebahagiaannya sendiri.

Maksudku tentang hukum moral pribadi dengan ketenangan hati; misal dengan contoh begini;
- orang balas dendam untuk menenangkan hatinya,
- orang mencuri untuk menenangkan hatinya,
- dan yang paling rumit, berbuat baik untuk menenangkan hatinya

Ini sedikit panjang pembahasannya; misal tentang mencuri,
1) bisa saja dia memang senang mencuri, mencuri menciptakan ketenangan hatinya
2) dia mencuri untuk memberi makan anaknya, memberi makan anaknya menciptakan ketenangan hatinya
3) dia mencuri untuk mengumpulkan harta, mengumpulkan harta menciptakan ketenangan hatinya
4) dia mencuri untuk membeli sesuatu, membeli sesuatu itu menciptakan ketenangan hatinya

Di sinilah peran moral pribadi seseorang berpengaruh penting dalam menentukan kebahagiaannya. Misalnya seseorang yang berprofesi sebagai pencuri, tapi dia memiliki pandangan moral pribadi, TIDAK BOLEH MENCURI.

Ini akan berpengaruh besar untuk kebahagiaannya, karena dengan kondisi begitu (dilema), dia tidak akan mendapatkan ketenangan hatinya. Jadi tiap kali dia mencuri, dia merasa tidak puas atau tidak bahagia. Jika dia ingin bahagia, dia sebenarnya sedang dihadapkan pada dua pilihan;
* merubah profesinya
* merubah pandangan moralnya

Memang ini cuma contoh sederhana, ini cuma perumpamaan akan gambaranku. Menurutku, dalam kondisi sebenarnya, pikiran manusia lebih rumit daripada itu, mungkin dia malah dihadapkan pada banyak dilema pandangan sekaligus.


Jadi manakah yang lebih baik, kebahagiaan yang menciptakan ketenangan hati, atau ketenangan hati yang menciptakan kebahagiaan. Baik selalu soal sudut pandang, tapi menurutku yang paling baik itu; KETENANGAN HATI YANG MENCIPTAKAN KEBAHAGIAAN. Dengan begitu orang yang tidak bahagia bisa berusaha untuk menjadi bahagia.


Selalu ada satu kata kunci utama untuk kebahagiaan manusia. Aku beri penjelasan begini;
- orang yang jiwanya terletak pada harta, mustahil merasa bahagia jika dia hidup miskin biarpun dia memiliki banyak cinta
- orang yang jiwanya terletak pada cinta, mustahil merasa bahagia jika dia tidak dicintai biarpun dia orang terkaya di dunia
- orang yang ketenangan hatinya terletak pada surga, tidak akan bisa mendapatkan kebahagiaannya selama dia masih hidup
- orang yang bahagia jika menjadi orang nomor satu, tak akan bahagia selama dia menjadi orang nomor dua
- orang yang bahagia jika dihormati, tidak akan bisa bahagia jika dia tidak dihormati di lingkungannya

Mungkin ketenangan hati yang kumaksudkan di sini lebih mirip kepada ketenangan, kepuasan, kelegaan dan kesenangan. Tapi menurutku, ini juga memiliki sedikit kelemahan, yaitu kelemahan pengertian. Karena pengertian hati terlalu cenderung kepada perasaan. Sedangkan yang kumaksudkan adalah kondisi batin yang sempurna.

Ditambah lagi dari banyak sudut pandangku, ketenangan hati ini juga merupakan salah satu kelemahan bagi manusia. Meniru kutipan KARL MARX; KETENANGAN HATI ADALAH CANDU. CANDU YANG BERBAHAYA.

Sehingga aku merasa perlu menambahi konsep kebahagiaan ini dengan satu kata AKAL.





KEDUA; PENAMBAHAN KATA AKAL DALAM KETENANGAN HATI SEHINGGA MENGHASILKAN KATA BATIN

PENJELASAN

Sedangkan manusia juga terbuat dari akal.  Jadi ketenangan hati ini adalah sesuatu yang kurang tepat. Karena aku menimbulkan pertanyaan, apakah ketenangan hati sama dengan ketenangan akal?

Karena sebenarnya yang ingin kumaksud adalah kondisi keduanya sekaligus, sehingga aku harus mengganti penggunaan kataku menjadi ketenangan batin. Atau bisa juga disebut sebagai kepuasan batin.

Karena adanya akal maka selalu akan ada tingkat dalam pikiran manusia. Oleh karena itu kebahagiaan manusia sebenarnya tidak terbatas. Hanya dengan kontrol diri dan kesederhanaan manusia bisa mencapai kebahagiaannya.

Maka aku memberikan penawaran, bahwa kebahagiaan itu adalah ketenangan batin. Dan karena akal manusia selalu mengalami perubahan, maka akal tidak bisa dijadikan dasar. Tetapi ada yang kondisinya lebih stabil daripada akal, yaitu ide jiwa.

Karena itu aku menyatakan kebahagiaan itu bisa didapat manusia dengan cara;
* Mengontrol akal (menentukan ide jiwa)
* Mengontrol perasaan (menentukan ide moral)
* Mengontrol materi
* Mengoptimalkan kemampuan


Jadi kunci kebahagiaan itu menurut pandanganku adalah mendapatkan ketenangan batin dengan mengatur pandangan moral dan mengoptimalkan potensi. Dan ketenangan batin baru dicapai dengan keseimbangan antara akal dan perasaan.


Pernyataan, "manusia hidup untuk mencari ketenangan batinnya" ini berlaku untuk semua manusia, bahkan manusia yang hidup tanpa perasaan sekalipun. Jadi bagaimana dengan orang yang hidup untuk kejahatan, untuk balas dendam, untuk bersenang-senang (hedonis), dll (yang bersifat negatif dari sudut pandang manusia secara universal) ?

Menurutku adalah sama saja, karena melakukan perbuatan semacam itu memberikan ketenangan batin buat mereka. Bagaimana dengan manusia yang mampu bertahan hidup dalam semua tekanan perasaannya, biarpun ketenangan batinnya belum tercapai? Pasti ada suatu alasan tersendiri, atau juga karena orang tersebut BERPENGHARAPAN.

Cara menghindari sikap hedonis adalah bukan dengan menjauhi kesenangan. Tetapi dengan mengatur kesenangan.




SEDIKIT TENTANG KONSEP KEBAHAGIAAN

Menurutku, kebahagiaan itu hanya ada dalam pikiran manusia. Dengan kata lain, kebahagiaan hanyalah ide yang dimunculkan akal. Karena memang tidak ada kebahagiaan dalam dunia realitas ini.

Jadi hanya manusia yang merasa dirinya bahagia lah yang merasa bahagia. Karena memang tidak ada patokan untuk kata bahagia. Dan karena bahagia itu adalah ide, jadi selama akal manusia masih memiliki konsep bahagia tsb, manusia tersebut masih bisa bahagia.

Bahkan jika manusia tidak bisa bahagia hanya dengan menjadi individualis, bagaimana manusia bisa bahagia dengan menjadi sosialis? Tentu saja dengan konsep bahagia menurut pandangannya. Maksudku, jika manusia itu merasa bahagia dengan berbuat baik, maka dengan berbuat baiklah maka manusia itu bisa bahagia. Jika manusia itu tidak bisa bahagia dengan berbuat baik, jangan berbuat baik.

Manusia membuat target untuk didapatkannya, mendapatkan target tsb, membuat manusia merasa bahagia. Setelah itu manusia merasa bosan, mereka membuat target baru, mendapatkan target tsb dan kemudian bahagia lagi. Begitulah seterusnya sampai manusia itu mati. Menurutku, dengan membuat konsep bahagia yang dangkal, sehingga mudah mencapainya, memudahkan manusia untuk bisa bahagia.
Manusia bahkan bisa bahagia hanya dengan membayangkan dirinya bahagia. Tapi menurut realitas, jelas ini adalah hal yang tidak nyata. Dan menurut dunia ide ini adalah hal yang nyata. Dan setelah manusia kembali melihat realitas, dia akan menyadari bahwa bahagia itu tidak nyata. Yang nyata hanya dia ternyata hidup di antara dua dunia.

Maka daripada itu banyak konsep yang menawarkan kebahagiaan di dua dunia tsb. Dan tentunya setiap dunia mempunyai syarat tersendiri. Dan menurutku, syarat ini adalah statis sekaligus dinamis.
(sebaiknya dibuat suatu kata untuk mengganti kata dunia ide, karena penggunaan kata ide sudah terlalu banyak, agar dapat menyaingi kata dunia realitas)(mungkin dunia idea, atau sejenisnya)

Jadi apakah kebahagiaan itu ada? Pertanyaan ini jelas membingungkan. Ini sama dengan menanyakan apakah ular kepala tujuh itu ada? Kalau anda bisa membayangkan ular kepala tujuh dalam pikiran anda, bukankah ular kepala tujuh itu ADA?

Nafsu sesaat, atau hal-hal yang berhubungan dengan kesenangan sesaat tidak bisa dikategorikan sebagai faktor penyebab kebahagiaan. Tapi tepat seperti pendapat Aristoteles, tentu saja orang tersebut harus merasa senang agar bisa bahagia. Karena setelah melampiaskan nafsunya ataupun kesenangannya, manusia tersebut tetap harus menjalani hidup seperti biasa.

Tapi lagi-lagi aku menekankan; konsep bahagia yang begitu tinggi dan pembentukan moral pribadi menentukan kebahagiaan manusia tersebut. Di sini adalah masalah mengalah pada keadaan atau mengalahkan keadaan.


Aku punya bahasa puitis untuk menyatakan ini; KEBAHAGIAAN ITU CUMA SATU BENTUK GAMBARAN AKAN IMPIAN MANUSIA. TAPI SERINGKALI IMPIAN ITU YANG MENJADI PENENTU KETIDAKBAHAGIAAN MANUSIA.


Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik membahas etika di sini, tapi membahas filsafat tidak begitu lengkap tanpa pembahasan akan etika. Jadi pembahasan tentang etika aku hentikan sampai di sini.





KONSEP TENTANG MORAL

Sebenarnya aku juga ingin menyambung pembahasan akan moral lebih banyak. Tetapi untuk pembukaan, aku akan membawakan sedikit saja.

Meskipun moral adalah sesuatu yang membatasi manusia. Yang menurut bahasaku, kekejaman terhadap diri sendiri. Tapi tanpa moral belum tentu hidup manusia menjadi lebih baik.

Moral tidak ada kaitannya dengan iman kepada agama. Ini adalah sesuatu yang bermakna spesifik. Karena sebenarnya tentu saja moral berkaitan dengan agama. Sedikit banyak pembentukan moral adalah dipengaruhi oleh agamanya.

Tapi untuk lebih jauh lagi, tanpa agama pun manusia bisa bermoral. Karena moral adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan moral. Karena orang yang tidak beragama bisa saja lebih bermoral daripada orang yang beragama.







1 comment :