Thursday, September 10, 2015
DEBAT ANTARA PROFESOR DAN MAHASISWA TENTANG KEBAIKAN DAN KEJAHATAN
Debat Antara Profesor dan Mahasiswa tentang Kebaikan dan Kejahatan
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini.
"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?"
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".
"Tuhan menciptakan semuanya?" tanya profesor sekali lagi.
"Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.
Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis profesor tersebut.
Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.
Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab si Profesor
Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Apakah kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si profesor diiringi tawa mahasiswa lainnya.
Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."
Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"
Profesor itu menjawab, "Tentu saja gelap itu ada."
Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak.Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak."
"Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna."
"Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."
Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."
Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan."
"Tuhan tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Tuhan di hati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya."
Profesor itu terdiam.
Dan mahasiswa itu adalah.... Albert Einstein.
Saya rasa sedikit tertarik sehingga saya ingin sedikit memberikan komentar saya. Karena menurut saya, jawaban yang anda sebut sebagai jawaban Einstein di atas juga sebenarnya kurang tepat.
1. Yang pertama adalah tentang dingin tersebut. Jawaban tersebut di atas terjadi karena anda membayangkan suhu dingin itu dari sudut pandang panas. Kalau anda membayangkan suhu panas dari sudut pandang dingin, kemungkinan hasilnya akan berbeda. Jadi apakah menurut anda suhu -1 derajat itu adalah dingin atau panas?
2. Yang kedua, anda mengatakan gelap adalah ketiadaan terang seakan-akan terang akan selalu ada. Apakah anda bisa melihat kenyataan bahwa terang tidak selalu ada? Bahkan yang paling mudah untuk dipahami adalah terang dalam ruang yang bernama Bumi dan sekitarnya ini adalah karena adanya pengaruh daripada matahari.
Saja jadi ingin bertanya, apakah setiap kali kita membahas ruang, kita akan selalu membahas matahari? Apakah setiap ada ruang, maka pasti ada matahari?
Pertanyaan ini juga berlaku untuk pernyataan nomor 1. Apakah setiap ruang akan memiliki panas jika matahari tidaklah ada?
Menurut saya, jika anda tidak pernah melihat matahari dan tinggal di daerah yang selalu dingin, maka kemungkinan besar anda akan mengatakan bahwa panas itu tidak ada. Panas hanya menggambarkan kekurangan (ketiadaan) dari dingin.
3. Yang ketiga, anda terlalu membawa Tuhan dalam suatu masalah. Masalah kebaikan dan kejahatan adalah tidak campur tangan Tuhan. Apakah kejahatan itu ada? Tentu saja kejahatan itu ada. Apakah kejahatan itu ketiadaan Tuhan di hati manusia, sedang manusia yang memiliki Tuhan di hatinya masih melakukan kejahatan. Bagaimana membedakan manusia yang memiliki Tuhan di hatinya atau tidak? Dan menimbulkan banyak pertanyaan lain yang seharusnya tidak perlu.
Jadi saya juga bertanya, apakah Tuhan itu bisa disebut terlalu baik sebab Ia menciptakan dan membantu Hitler untuk membantai manusia? Anda bisa pikirkan sendiri, apakah pernyataan saya benar atau salah.
Maksud saya begini, pernyataan Tuhan menciptakan segalanya itu merupakan suatu paradoks. Dari sudut pandang Tuhan menciptakan segalanya, dengan sendirinya akan menyebabkan pandangan Tuhan menciptakan kejahatan. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena kalimat ini mengandung pertentangan dalam dirinya, sama seperti dalam kalimat; Apakah Tuhan bisa menciptakan sebuah batu yang sangat besar sehingga Ia tidak bisa untuk mengangkatnya?
Dan itu sebenarnya tidak perlu untuk dipertanyakan, karena sebenarnya kejahatan dan kebaikan itu tidaklah ada. Maksud saya di sini, kejahatan dan kebaikan itu cuma ada di alam pemikiran manusia, bukan sebuah materi dalam alam.
Tuhan tidak menciptakan kebaikan ataupun kejahatan itu, Tuhan hanya menciptakan sebuah alat untuk menghasilkan kebaikan atau kejahatan, yaitu pemikiran (rasio). Tapi bukan berarti tanpa pemikiran manusia bisa menjadi lebih baik atau lebih buruk, karena kebenarannya, tanpa pemikiran manusia cuma tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Contoh mudahnya lihat saja pada binatang. Binatang tidak tahu kalau memakan temannya sendiri adalah buruk.
Hal ini sama saja seperti penemuan (pembuatan) pisau dapur. Karena banyaknya pisau dapur digunakan untuk membunuh orang lain, maka bukan berarti pisau dapur itu seharusnya tidak diciptakan, karena bisa menciptakan hal buruk. Bahkan tanpa pisau dapur, manusia pasti akan kesulitan mengiris bawang, memotong cabai atau memotong buah.
Jadi jika anda terus mempertahankan argumen bahwa Tuhan menciptakan kebaikan, tetapi tidak menciptakan kejahatan, anda akan terus berputar dalam lingkaran paradoks ini. Karena itu saya ingin memperhalus pengertian dengan mengatakan bahwa masalah kebaikan dan kejahatan bukan campur tangan Tuhan. Harap lebih bijaksana dalam menafsirkan ini.
Kalau untuk membahas apakah agama adalah mitos atau bukan, saya rasa saya belum bisa menjawab itu. Tergantung apakah yang dimaksud dengan agama, apakah yang dimaksud dengan mitos, dan di mana kaitannya.
Dan untuk penutup atas penjelasan yang menurut saya kurang tepat di atas, timbul pertanyaan sederhana dalam pikiran saya, manakah yang lebih alami, kegelapan atau terang, dingin atau panas, kejahatan atau kebaikan? Saya pikir anda sekalian sudah bisa menjawab ini. Mengakui alami di sini bukan berarti bahwa matahari adalah Tuhan, karena matahari adalah terang sekaligus panas. Anda sudah mundur puluhan langkah jika anda melakukan hal tersebut.
Sebagai penutup saya memberikan sedikit saran untuk menyatukan kedua pandangan di atas. Bukankah anda sudah mengetahui bahwa kedua hal tersebut ada, kenapa mesti menolak bahwa hal tersebut adalah ada.
Anda seorang diri tidak akan bisa membuat dunia ini selalu terang, selalu panas, atau selalu baik. Anda hanya bisa mengusahakan agar hal tersebut terjadi. Itulah sebabnya manusia bisa belajar dan berpikir.
* Jika anda perlu terang untuk melihat, maka itu gunakan lampu anda, karena kenyataannya terang tidak selalu ada
* Jika anda perlu kehangatan untuk hidup, maka itu gunakan rumah anda, karena kenyataannya hangat tidak selalu ada
* Jika anda ingin kebaikan untuk dunia, maka itu gunakan kebaikan anda, karena kebaikan tidaklah ada tanpa kebaikan
Friday, September 4, 2015
KUALITAS TIDAK TERDAPAT DALAM SUBSTANSI
KUALITAS TIDAK TERDAPAT DALAM MATERI
Apakah ada kualitas dalam suatu substansi? Mungkin hal ini sedikit rumit untuk dijawab. Mungkin akan lebih mudah jika kita perhatikan dengan lebih sederhana; apakah dalam suatu materi tertentu terdapat suatu kualitas tertentu?
Mungkin pada awalnya aku berpikiran kualitas tidak terdapat dalam substansi. Dan ini jelas tidak berarti apa-apa jika tidak disertai bukti.
Contoh;
- cantik itu relatif
- enak itu relatif
- baik itu relatif
- kuat itu relatif
- pandai itu relatif
- bagus itu relatif
- panas itu relatif (pengertian panas di sini adalah bukan suatu ukuran, melainkan panas yang berupa perasaan)
Dan dalam bukti tsb, aku mendapat kepastian yang lebih besar lagi. Sehingga aku menyimpulkan bahwa kualitas memang tidak terdapat dalam substansi. Oleh karena itu, kualitas cuma terdapat dalam alam pikiran manusia. Ini yang menyebabkan pemberian kualitas pada pemikiran masing-masing manusia adalah relatif.
Jadi kesimpulan sementara yang didapat adalah;
- Alam tidak mengenal yang namanya kualitas.
- Kualitas itu ada karena manusia ada. (mungkin setara dengan kualitas ada karena makhluk adalah ada)
- Kualitas ada karena makhluk adalah berpikir. (entah mungkin hewan mengenal adanya kualitas)
Jadi yang terdapat dalam substansi itu adalah zat, sifat dan kuantitas.
Kata sifat di sini lebih mirip kepada akibat yang ditimbulkan kepada substansi lain.
Kata zat juga mirip artinya dengan potensi. Tapi mirip tidak berarti sama.
Jika masih meragukan, aku akan menerangkan sedikit tentang kualitas;
Seperti;
- bermutu hanya terjadi jika manusia mengganggapnya bermutu bagi dirinya
- kepandaian, kecerdasan, kekuatan adalah potensi sekaligus penilaian
- baik, jahat, bagus, buruk terjadi karena penilaian manusia sesuai keinginan dan kebutuhannya, substansi tsb tidak mengandung (memiliki) kualitas itu. Substansi hanya memiliki potensi (zat) yang dinilai manusia sebagai kualitas.
Aku akan membawakan pengertian yang lebih beserta contoh. Misal;
Apel busuk, kualitasnya adalah buruk bagi tubuh manusia.
Pisau berkarat, kualitasnya adalah tidak baik jika digunakan untuk memasak.
Mobil rongsokan, kualitasnya adalah kurang baik untuk digunakan.
Handphone bekas, kualitasnya adalah kurang baik untuk digunakan.
Untuk contoh 1 dan 2 adalah lebih kepada zat yang dikandung daripada suatu substansi, dan pengaruhnya jika bertemu dengan substansi lain. Mungkin manusia sering menyebut ini dengan kualitas, meskipun menurutku ini bukan suatu kualitas.
Untuk contoh 3 dan 4 adalah lebih kepada kebutuhan dan kegunaannya bagi manusia. Itu terjadi karena manusia adalah makhluk yang berpikir. Jadi menurutku itu bukanlah kualitas yang melekat di dalamnya. Tapi kualitas yang dibuat manusia seolah melekat kepadanya.
Sedikit masalah di atas, panas bukan kualitas, tapi merupakan sifat. Dan sifat adalah sesuatu yang tidak berhubungan dengan kualitas. Jika ingin memasukkan sifat sebagai kualitas, akan sama dengan penggunaan pada contoh nomor 3 dan 4.
Kalau ingin menyamakan sifat dengan potensi (zat) yang dikandung, mungkin ada sedikit kemiripan. Mungkin bisa dipikirkan belakangan.
Memang tidak cukup memuaskan pada awalnya, dan sekarang aku akan membuat sedikit yang lebih mudah dipahami. Yaitu kualitas bukan potensi ataupun kondisi. Kualitas adalah sudut pandang dan kondisi adalah tetap. Contoh;
- Anak itu pandai.
Sebenarnya memiliki 2 artian yaitu;
* Pada saat penilaian, anak itu dalam kondisi pandai. Sehingga untuk penilaian yang lainnya, belum tentu anak itu akan disebut pandai.
* Anak itu memiliki potensi besar untuk pandai, sehingga biarpun begitu, anak itu tetap menyimpan potensi untuk bodoh.
Dan begitu untuk contoh-contoh seterusnya.
Tapi ini tentu saja menjadi pertanyaan, lalu apakah kualitas itu? Kualitas itu adalah nilai mutu. Suatu penilaian terhadap hasil dari substansi (materi) terhadap kepentingan manusia, bukan sesuatu yang dikandung daripada materi tersebut.
Dengan ini akan diambil kesimpulan;
- kualitas adalah nilai mutu
- kualitas adalah penilaian terhadap materi
- materi tidak berpengaruh terhadap kualitas
- yang tidak termasuk materi tidak dapat ditentukan kualitasnya
Pembahasanku ini terutama untuk meluruskan masalah dalam metafisika.
Meskipun begitu aku menemukan banyak sekali kekosongon dalam teori ini. Mungkin karena tiap kata bahkan menggambarkan banyak hal sekaligus.
Subscribe to:
Comments
(
Atom
)